Jumat, Maret 27, 2009

Pelangi Itu Ada Setelah Badai


"Sewaktu saya masih kecil, ibu saya sering bertengkar dengan ayah," ujar Amir membuka kisahnya




"Sewaktu saya masih kecil, ibu saya sering bertengkar dengan ayah," ujar Amir membuka kisahnya.

Ayah Amir yang sering keluar kota akhirnya tak kunjung kembali ke rumah. Bertahun-tahun kemudian, Amir beserta ibu dan adik-adiknya menyusul sang ayah ke Jakarta. Namun suatu hal yang tidak diharapkan terjadi. Selentingan yang selama ini didengarnya mengenai perselingkuhan ayahnya, telah nyata di depan matanya saat itu. Amir bahkan melihat langsung selingkuhan ayahnya. Dendam dirasakan Amir saat itu kepada ibu tirinya, karena baginya perempuan itulah yang menyebabkan ibunya sengsara selama ini.

Amir pun tumbuh menjadi seorang anak yang tidak bisa menghargai usaha orangtuanya. Seluruh uang yang diberikan ayahnya kepadanya, dipergunakannya untuk hal yang sia-sia. Judi, narkoba, mabuk-mabukan pun menjadi dunia Amir yang baru. Amir tidak pernah merasa sayang untuk menghabiskan uang yang diberikan kepadanya karena kapan pun ia memintanya, ayah dan ibu tirinya selalu mengabulkan seluruh permintaannya.

Sampai suatu ketika ayah Amir mengajaknya ke suatu tempat. Ternyata ayahnya selama ini melakukan bisnis haram, yaitu jual beli ganja. Amir semakin kehilangan arah dalam hidupnya. Figur seorang ayah yang seharusnya membimbing Amir ke jalan yang benar, tidak didapatkannya. Narkoba pun semakin mencengkeram hidup Amir.

Pada tahun 1984, orangtua Amir tertangkap polisi dan dijerumuskan ke dalam penjara. Kekosongan hidup Amir pun terus berjalan. Hilangnya kasih sayang dari orangtua telah menuntun Amir ke dunia narkoba. Sekali pun Amir telah beberapa kali meringkuk dalam jeruji besi, namun ia tetap bertahan hidup dalam dunia narkoba.

Hidup Amir semakin tidak terkontrol dan membuat keluarganya menderita. Hal sepele di rumah bisa mengakibatkan Amir marah besar dan memukul isterinya. Anak Amir yang masih kecil saat itu ketakutan melihat perilaku ayahnya yang senantiasa menyiksa ibunya dan terlihat seperti berniat untuk membunuh ibunya.

Tahun 1998, Amir benar-benar sudah kecanduan putaw dan sabu-sabu. Dari kecil, anak Amir harus menyaksikan ayahnya yang dengan bebas menggunakan barang-barang haram tersebut bersama-sama dengan teman-temannya. Perasaan isteri Amir semakin hancur melihat perilaku suaminya yang tidak menunjukkan tanda-tanda perubahan.

Kehidupan Amir bukan semakin membaik, segalanya hanya semakin bertambah buruk. Amir mulai menjalankan bisnis putawnya sendiri. Barang haram itu telah demikian kuat mengikatnya sehingga ia sendiri pun tak dapat mengendalikan dirinya lagi.

Selain keterikatannya akan putaw, Amir memiliki sebuah keterikatan lain yang sangat membuat anak dan isterinya terpukul. Amir selingkuh dengan seorang mahasiswi dan secara terang-terangan memperkenalkannya kepada isterinya di rumah. Perasaan cinta isterinya terhadap Amir saat itu sepertinya sudah mati akibat tingkah laku Amir yang begitu menyakitkan. Tapi segala perasaan kecewa itu hanya dapat dipendam isterinya di dalam hati.

Keterikatan akan narkoba dan rusaknya hubungan keluarga pada akhirnya membuat Amir terasingkan. Keterpisahan dengan isteri dan anaknya menimbulkan sebuah keinginan di dalam hati Amir untuk memperbaiki hubungan dalam rumah tangganya. Amir berusaha untuk mendekatkan dirinya kembali kepada anak dan isterinya, tapi pintu hati isteri dan anaknya benar-benar sudah tertutup untuk Amir. Kesadaran itu menimbulkan keinginan di hati Amir untuk hidup normal, tapi Amir benar-benar tidak sanggup untuk lepas dari semua keterikatannya. Amir sudah berkecimpung cukup lama di dunia narkoba.

Di saat keputusasaan Amir memuncak, Amir berniat menjual tanak miliknya, harta terakhir yang dimilikinya. Amir membulatkan tekad di dalam hatinya, jika uang hasil penjualan tanah ini habis, maka itu sebagai pertanda akan akhir dari hidupnya. Ia berniat untuk bunuh diri. Saat Amir sedang membicarakan tanah yang akan djualnya kepada calon pembelinya, Amir disela dengan sebuah pertanyaan yang menyimpang. Ia menanyakan apakah Amir pernah terpikir untuk sekolah Alkitab? Tentu saja hal itu membuat Amir bingung, karena tidak ada hubungannya sama sekali antara tanah yang sedang ditawarkannya dengan sekolah Alkitab. Tapi saat itulah Amir ditangkap Tuhan.

Walau dapat dikatakan semuanya berawal dari keanehan, hati Amir tersentuh seakan-akan sebuah harapan kecil timbul dalam diri Amir untuk memperbaiki hidupnya sekali lagi.

"Saya memang berharap agar suami saya itu bisa menjadi orang yang mengenal Tuhan, jadi orang baik-baik," ujar isteri Amir.

"Saya hanya bisa merelakan saja supaya Bapak lebih dekat lagi dengan Tuhan, supaya Bapak bisa jadi seorang yang benar-benar takut sama Tuhan dan hanya boleh bersandar sama Tuhan," ujar putri Amir yang sudah beranjak remaja.

Dengan dorongan dari isteri dan anaknya, Amir pada akhirnya berhasil mengikuti pembinaan rohani tersebut. Pada awalnya, hidup keluarganya yang seperti benang kusut, sepertinya tak ada jalan keluar, namun ketika Amir bersama-sama dengan isteri dan anaknya datang kepada Tuhan, Tuhan sungguh-sungguh menunjukkan kepeduliannya akan setiap pergumulan anak-anak-Nya.

Pengampunan demi pengampunan terjadi. Amir menyadari bahwa selama ini ia menyimpan kekecewaan terhadap orangtuanya yang telah mengarahkan dia kepada keterikatannya akan narkoba. Dengan rendah hati, Amir mendatangi kedua orangtuanya dan meminta maaf atas perasaan dendam yang disimpannya selama ini. Pemulihan hubungan tidak hanya terjadi atas Amir dengan anak dan isterinya, namun juga dengan kedua orangtuanya. Anak perepuan Amir menyambut kembalinya sang ayah ke jalan Tuhan dengan penuh sukacita.

"Saya sudah tidak malu lagi. Kalau dulu kan Bapak saya itu tidak jelas, tapi sekarang teman-teman saya bisa melihat bahwa segala yang telah saya alami sampai akhirnya orangtua saya bisa bersatu kembali, itu karena Tuhan," ujar putri Amir.

"Kebaikan Tuhan yang saya rasakan setelah saya bertobat sangat banyak. Terutama dalam rumah tangga saya juga, saya merasakan keharmonisan yang dulu jarang saya dapatkan,"
Read More..

Kasih Tuhan Menyempurnakan Hidupku


Jamrano lahir dengan ayah yang tidak ada mempunyai kasih. Ia selalu mendapat perlakuan yang kasar dari ayahnya. Bila ayahnya sedang ada masalah selalu menumpahkannya di rumah. Anak-anak adalah sasaran utama. Rano pun menjadi sasaran empuk untuk dipukul oleh sang ayah




Jamrano lahir dengan ayah yang tidak ada mempunyai kasih. Ia selalu mendapat perlakuan yang kasar dari ayahnya. Bila ayahnya sedang ada masalah selalu menumpahkannya di rumah. Anak-anak adalah sasaran utama. Rano pun menjadi sasaran empuk untuk dipukul oleh sang ayah. Karena perlakuan ayahnya yang kasar, maka Rano tumbuh menjadi anak yang kasar dan keras. Rano ingin sekali memiliki ayah yang dapat dijadikan panutan dan teman bercerita. Tetapi kenyataannya ia tidak mendapatkannya. Saat itu Rano mempunyai satu keinginan. Suatu saat nanti bila ia sudah besar dan kuat, ia akan membunuh ayahnya. Hal itu ia tanamkan sejak ia kecil.

Dari saat duduk di bangku SMP, Rano sudah mengenal dan memakai narkoba dan minuman keras. Hal itu berlanjut sampai ia masuk ke STM. Kelakuannya menjadi-jadi. Ia menjadi anak yang suka memberontak. Ia bahkan sering memimpin teman-temannya untuk berkelahi dengan sekolah lain. Bahkan satu hari ia dan teman-temannya tawuran sampai tiga kali. Ia lakukan itu semua karena ingin melampiaskan amarahnya terhadap ayahnya. Dan ia merasa bangga melakukan itu semua

Pada suatu hari ia berkelahi dengan sekolah lain dan ia melukai anak dari jawara kampung lain. Saat itu Rano diincar untuk dibunuh. Pada saat ia naik bus, warga langsung menyerbu bus itu dan mengancam ingin membunuh Rano, tetapi karena Rano juga mengancam supir untuk tetap jalan, maka ia lolos dari maut.

Lolos dari kematian membuat Rano berpikir tentang hidupnya. ia merasa hidupnya tidak ada artinya. Ia berpikir hanya bila ia tidak mati muda, maka ia akan mendekam di penjara. Saat itu merasa tidak ada jalan lagi untuk meraih masa depannya. Ia sempat berpikir untuk bunuh diri. Tetapi ia kemudian berpikir bahwa bunuh diri bukanlah cara yang baik, karena bila ia mati maka ia akan masuk neraka. Pada saat itu juga ia merasa hidupnya ada di dalam sebuah lubang yang dalam, kecil, bau dan gelap. Bila saja ada yang bisa mengeluarkannya dari sana, ia akan ikut.

Ditengah kegundahannya, ia bertemu dengan kerabatnya dari luar kota. Kerabatnya mengajak ia untuk datang ke persekutuan. Di persekutuan itu, Rano bertemu dengan Tuhan. Ia merasa hancur hati saat itu. Ia mengingat semua dosa yang sudah ia lakukan, semua itu sia-sia. Ia ingin mengampuni semua orang yang telah melukai hatinya. Terutama papanya. Ia merasakan kedamaian dan kelegaan yang belum pernah ia rasakan. Kasih Tuhan yang luar biasa telah menjamah dan melembutkan hatinya.

Pertobatan telah merubah Rano menjadi lebih baik. Ia selalu berdoa untuk ayahnya. Ia mempunyai kerinduan sebagaimana Tuhan telah melembutkan hatinya, ia juga ingin ayahnya dilembutkan hatinya. Sampai pada suatu saat papanya mengalami stroke. Pada momen itulah Rano memberanikan untuk meminta maaf pada papanya. Ia mulai mengobrol dan akhirnya ia mengutarakan maksudnya untuk meminta maaf. Papanya juga akhirnya terbuka dengan masa lalunya. Pada saat itu Rano dan papanya menangis dan berpelukan. Itu adalah pelukan pertama mereka.

Akhirnya Rano berdoa untuk ayahnya dan pemulihan terjadi antara mereka. Luar biasa, hubungan ayah anak yang rusak selama 10 tahun kini telah dipulihkan oleh Tuhan. Walaupun pada akhirnya papanya menyerah dengan penyakitnya dan meninggal, tetapi tidak ada lagi penyesalan dalam hati Rano. Waktu yang sempit itu mereka gunakan sebaik-baiknya untuk saling menyayangi.

Setelah menerima Tuhan dalam hati, Rano merasa mempunyai masa depan lagi. Ia ingin hidupnya dipakai Tuhan. Didalam Tuhan ada cahaya terang yang membuatnya melihat dan ada pengharapan.
Read More..

Terpuruk Dalam Kasih Dan Pengkhianatan


Susi adalah seorang jurnalis. Demi mendapatkan berita yang up to date dari seorang narasumber yang bernama Timothy, Susi harus menunggu di depan kost Timothy sampai empat jam lamanya




Susi adalah seorang jurnalis. Demi mendapatkan berita yang up to date dari seorang narasumber yang bernama Timothy, Susi harus menunggu di depan kost Timothy sampai empat jam lamanya. Pada waktu itu Timothy memang tidak mau menemui siapa pun, terutama wartawan. Sedangkan Susi sendiri tidak mau beranjak sebelum Timothy keluar. Karena kegigihan Susi untuk menunnggunya sampai berjam-jam, Timothy pun akhirnya mempersilahkan Susi untuk masuk.

Interview pertama Susi dan Timothy ternyata berjalan dengan sangat baik. Timothy dapat membicarakan banyak hal bersama Susi dan hal itu pada akhirnya sangat membantu pekerjaan Susi. Timothy dan Susi pun pada akhirnya menjadi semakin akrab melalui pertemuan-pertemuan interview. Dan tanpa disadari, hubungan yang tadinya hanya sebatas hubungan kerja berkembang menjadi hubungan sepasang kekasih. Perasaan kasih mulai bertumbuh di hati Susi dan ia mulai berpikir mungkin Timothy adalah jodohnya karena profil yang diingini dari seorang lelaki ada pada Timothy.

Hubungan yang lewat batas pun akhirnya dijalani Susi dan Timothy. Pada waktu itu Susi sendiri berpikir bahwa hal itu bukan merupakan suatu hal yang tabu, namun menjadi suatu hal yang umum dilakukan orang-orang yang berusia di atas 20 tahun. Konsekuensi dari perbuatan itu pun tidak dipikirkan oleh Susi. Sampai akhirnya Susi mengetahui kalau dirinya telah hamil.

Timothy tidak siap mendengar kabar itu. Apalagi Timothy sendiri sedang menunggu proses keberangkatannya ke luar negeri. Saat Susi mengatakan keinginannya agar mereka menemui orang tua Susi, sebenarnya pada waktu itu Timothy bermaksud mengatakan dengan terus terang kepada keluarga Susi bahwa ia akan pergi meninggalkan Susi yang sedang hamil. Namun Susi melarang maksudnya itu. Karena menurut Susi, kalau sampai orang tuanya tahu Susi sudah hamil, Timothy pasti akan dilarang untuk pergi ke luar negeri. Sedangkan Susi sangat yakin pada cinta Timothy dan percaya Timothy pasti akan kembali lagi untuk menjemputnya. Susi dan Timothy pun berpisah dengan satu komitmen bahwa mereka pasti akan menikah.

Akhirnya Timothy pergi menemui keluarga Susi dan meyakinkan mereka bahwa ia akan secepat mungkin kembali untuk menjemput Susi dan menikahinya. Namun mengenai kehamilan Susi, hal itu masih dirahasiakan. Kepergian Timothy tidak dapat dihindari. Susi hanya bisa menerima dan percaya bahwa kekasihnya akan kembali untuk menjemput dirinya dan anak yang dikandungnya. Walaupun kepergian sang kekasih membawa kesedihan yang sangat mendalam, di depan Susi saat ini menanti hal penting yang perlu diungkapkan kepada keluarganya, yaitu kehamilannya.

Ketika semua saudaranya berkumpul, Susi pun menceritakan perihal kehamilannya. Mama Susi hanya bisa menangis, papa Susi hanya terdiam dan tidak banyak bicara, sedangkan kakak laki-laki Susi langsung menolaknya untuk menjadi adiknya lagi. Semua keluarganya menuntut Susi untuk menggugurkan kandungannya namun Susi bertekad untuk tetap mempertahankannya. Susi tidak mau membuat kesalahan baru demi menutupi kesalahan sebelumnya. Susi sangat ingin melahirkan bayi yang sedang dikandungnya. Susi hanya bisa berkata kepada keluarganya bahwa ia ingin bertanggung jawab dan Susi percaya Timothy pasti akan bertanggung jawab.

Karena Susi tetap mempertahankan kehamilannya, saudara-saudaranya pun menyerah. Namun sebagai konsekuensinya, Susi harus keluar dari rumah. Tetapi karena ada salah satu kerabat keluarga yang menasehati, Susi pun diterima kembali di dalam keluarga. Sembilan bulan kemudian Susi pun melahirkan anaknya, Mario.

Susi tidak pernah membayangkan bahwa proses persalinan itu ternyata sangat menyakitkan. Perasaan bersalah melingkupi hati Susi. Selama bertahun-tahun, Susi membesarkan Mario dengan cinta sambil menanti di dalam doa untuk hari dimana Timothy akan datang menjemput mereka. Apa yang ada di hati Susi hanya satu, mempertahankan kelahiran Mario adalah suatu kebenaran dan Timothy pasti akan bertanggung jawab. Susi sangat yakin cepat atau lambat Susi akan kembali bertemu dengan Timothy dan mereka akan menikah.

Suatu hari Timothy kembali dan bertemu dengan Susi. Tanpa diduga, Timothy mengatakan bahwa dirinya telah menikah. Namun saat Timothy melihat Mario, hatinya langsung luluh. Dipenuhi perasaan bersalah, Timothy menyatakan kembali keinginannya untuk bertanggung jawab. Timothy berjanji akan mencari jalan keluar dan membicarakan masalah Susi dan Mario kepada istrinya. Walau dianggap bodoh, Susi tetap memegang teguh janji yang diucapkan kekasihnya. Walaupun Timothy telah memiliki yang lain, Susi tetap teguh dan percaya bahwa dirinya dan Timothy adalah jodoh dan suatu hari mereka pasti akan bersatu.

Hingga beberapa bulan kemudian, penantian itu pun berakhir. Susi menerima email dari Timothy yang berisi permintaan maaf karena tidak bisa memenuhi janjinya kepada Susi. Saat mendapat penolakan yang kedua kali dari orang yang sama, Susi sangat marah dan tidak mau mengampuni Timothy lagi. Susi hanya berpikir bagaimana mungkin Timothy bisa berlaku sejahat itu kepada dirinya.

Dunia Susi pun runtuh seketika. Impian yang disimpannya selama bertahun-tahun tidak akan pernah terjadi. Susi sempat mempertanyakan Tuhan, kenapa keadaan menjadi seperti ini, kenapa Tuhan tidak menjawab doanya. Depresi akibat beban hatinya yang berat membuat Susi harus dirawat di rumah sakit. Di dalam hati kecilnya Susi tahu bahwa dirinya melakukan suatu hal yang salah. Melalui buku hariannya, Susi berseru kepada Tuhan akan kerinduan hatinya untuk memiliki suami yang baik.

Suatu pagi Susi mendengarkan sebuah renungan. Renungan itu membahas Matius 6:33, "Carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenarannya maka semuanya akan ditambahkan kepadamu." Khotbahnya berkata kalau kamu tidak tetap hati, seperti rel kereta api kalau kakimu bercabang, satu saat nanti kamu akan patah karena jalannya berbeda. Susi terus berdoa sampai akhirnya Tuhan menyingkapkan begitu rupa sehingga Susi menyadari bahwa hidup yang selama ini dia jalankan itu salah. Susi menyerahkan hatinya kepada Tuhan dan rindu untuk melakukan apa yang Tuhan mau. Tuhan berbicara dalam hati Susi, "Anak-Ku, hapus air matamu dan ikut Aku. Aku mengasihimu." Susi pun menyerahkan Timothy dan istrinya ke dalam tangan Tuhan dan melupakan apa yang telah lalu.

Semenjak kejadian itu, Susi merasakan kelegaan di dalam hatinya. Susi pun mengirim surat kepada Timothy dan istrinya yang isinya adalah surat berkat. Dalam suratnya Susi menulis, "Saya memberkati kalian. Saya tidak berjodoh dengan Timothy, kalian yang berjodoh. Saya berdoa supaya kalian membina hidup kalian baik-baik demi anak perempuan kalian. Tuhan akan pelihara saya dan Mario."

Susi pun hidup dengan berserah penuh kepada Tuhan dan memberikan hidupnya untuk menjadi berkat bagi orang lain. Suatu hari Susi berbincang-bincang dengan teman lamanya. Saat itu temannya sempat menanyakan tentang pasangan hidup. Dalam perbincangan itu, Susi hanya memberikan dua kriteria kalau memang Tuhan akan memberikan pasangan hidup baginya. Yang pertama ia takut akan Tuhan, dan yang kedua ia akan merestui Susi untuk terlibat dalam pelayanan. Temannya ini kemudian menyarankan Susi untuk mendoakan seorang kenalannya. Lalu Susi pun doa puasa untuk hal itu. Susi belum mengenal sosok pria ini sama sekali.

Kira-kira bulan April, saat Susi datang di doa Jumat, itu adalah kali pertama Welly, pria yang didoakan Susi, melihat Susi. Mereka tidak saling mengenal sebelumnya. Welly sendiri memiliki kebiasaan untuk mendoakan semua orang yang datang di pertemuan doa itu sebelum ia tidur. Hanya saja terjadi sesuatu, karena doa Welly mentok kepada Susi yang pada waktu itu belum dikenalnya.

Suatu hari Minggu, Welly sedang bertugas menjadi penerima tamu. Saat Susi datang, Welly pun menyapa Susi, menanyakan kabarnya dan menyatakan keinginannya untuk berbicara kepada Susi. Susi pun tidak menyangka bahwa sesuatu yang luar biasa terjadi malam itu. Saat itu Welly hanya meminta Susi untuk menceritakan semua persoalan hidupnya kepadanya. Welly hanya berkata untuk Susi tidak lagi merasa tertolak karena masa lalu meskipun banyak kepahitan yang telah ia alami di masa lalunya. Mendengar perkataan Welly, airmata Susi pun pecah. Di hadapan Welly Susi menangis dan berkata, ia lelah karena semua orang memandang dirinya sebagai perempuan yang tidak baik.

Saat Susi menangis di hadapan Welly, sesuatu yang supranatural terjadi pada Welly. Ia melihat cahaya yang sangat terang, sehingga Welly pun tidak dapat menatap Susi. Sementara hal itu terjadi, ada suara Tuhan yang berbicara, dan Welly sangat yakin kalau itu adalah suara Tuhan. Suara itu berkata, "Teman, kamu sudah melakukan tugas kamu dengan baik. Dan kamu harus bertanggung jawab atas tugas ini." Welly pun meresponi suara itu dari dalam hatinya. Setelah itu, Welly pun berkata kepadanya untuk tidak takut. Mulai hari ini tidak akan ada lagi orang yang menolak Susi, terutama Welly. Saat itu juga Welly melamar Susi untuk menjadi calon istrinya.

Susi kaget. Susi hanya dapat melihat Welly dengan tidak percaya. Susi bingung dan hanya dapat terdiam. Welly pun meminta Susi untuk tidak menjawabnya sekarang. Welly meminta Susi untuk pulang dan berdoa untuk hal ini.

Dalam kebingungannya, Susi hanya mengatakan kepada Tuhan, "Tuhan, saya minta tanda. Tapi kok hari pertama ketemu langsung dilamar? Apa yang harus saya lakukan?" Dengan masa pertemuan yang sangat singkat, Susi pun menerima lamaran Welly. Walau sempat ditentang oleh beberapa pihak, Welly dan Susi tetap bersepakat untuk mengikat janji satu sama lain. Oleh karena keteguhan hati Susi dan Welly, hati yang keras pun dilembutkan. Pernikahan pun dapat dilangsungkan.

Tadinya setiap kali Susi berdoa, Susi meminta Tuhan untuk menjawab doanya seperti apa yang Susi mau. Dan ternyata dalam 12 tahun itu, Tuhan memproses karakter Susi. Kalaupun 11 tahun yang lalu Susi menikah, Susi sadar karakter, emosi dan egonya pasti akan muncul di permukaan, belum terbentuk seperti saat ini. Bagi Mario sendiri, kejadian ini menjadi suatu hal yang sangat ia syukuri karena pada akhirnya ia bisa memiliki seorang ayah dan memiliki keluarga yang lengkap.

"Bagi saya, Tuhan itu luar biasa setia dan ajaib. Saya tidak pernah melihat Tuhan tidak menjawab doa saya. Doa-doa saya selalu Tuhan jawab. Sekalipun jawaban doa itu tidak seperti yang saya bayangkan, tapi Dia memberi jauh lebih baik daripada apa yang saya harapkan. Mungkin doa saya itu hanya minta roti tawar, tapi ternyata Tuhan memberi saya roti coklat manis," ujar Susi menutup kesaksiannya.
Read More..

Kamis, Maret 19, 2009

Haruskah Anda Meninggalkan Dunia Bisnis Untuk Pelayanan?


Jika Anda bekerja dunia bisnis sekuler tetapi justru bermimpi untuk bekerja di sebuah gereja atau pelayanan, apakah itu artinya Anda harus keluar dari pekerjaan Anda yang sekarang dan pindah jalur? Tidaklah perlu. Tuhan mungkin saja memanggil Anda untuk merubah karir, tetapi pertama, Anda perlu menyelidiki kemungkinannya




Jika Anda bekerja dunia bisnis sekuler tetapi justru bermimpi untuk bekerja di sebuah gereja atau pelayanan, apakah itu artinya Anda harus keluar dari pekerjaan Anda yang sekarang dan pindah jalur? Tidaklah perlu. Tuhan mungkin saja memanggil Anda untuk merubah karir, tetapi pertama, Anda perlu menyelidiki kemungkinannya.

Berikut bagaimana Anda bisa membedakan dan merespon panggilan Tuhan untuk karir Anda:

Bersandarlah pada Tuhan untuk memimpin Anda kepada pekerjaan terbaik di waktu yang terbaik. Ketahuilah bahwa Tuhan akan membawa beragam ketertarikan Anda yang unik, talenta, kemampuan, dan pengalaman-pengalaman Anda kepada jalur karir yang ia pimpin. Percayailah Ia untuk memperlengkapi dan memakai Anda. Berdoalah sehubungan dengan keputusan-keputusan karir Anda, dengarlah bimbingan Tuhan daripada hanya mengikuti perasaan-perasaan Anda.

Jadilah spesifik. Daripada hanya mengumpulkan keinginan-keinginan yang masih semu untuk pergi ke pelayanan atau sejenisnya, berpikirlah dengan baik mengenai beragam pilihan dan identifikasikanlah sebuah tipe pekerjaan yang paling cocok dengan Anda. Juga pertimbangkanlah organisasi apa yang Anda ingin pergi untuk bekerja - sebuah gereja, lembaga amal, kelompok misi, atau bahkan perusahaan konsultasi yang bekerja dengan gereja-gereja?

Berkembanglah dimana Anda tertanam sekarang. Setialah dalam pekerjaan dimana Anda berada sekarang sebelum Anda pindah ke pekerjaan Anda selanjutnya di masa depan. Praktikkanlah melayani kepada orang-orang yang Anda ketahui di lingkungan Anda sekarang. Sadarilah bahwa Anda bekerja di marketplace sekuler sama kudusnya dengan pelayanan tradisional jika Anda melakukan yang terbaik dan bekerja untuk kemuliaan Tuhan. Buatlah transisi hanya jika Anda tidak bisa membayangkan melayani Tuhan dengan cara lain selain pelayanan penuh waktu.

Ujilah ‘air' pelayanan. Uji cobalah beberapa pekerjaan pelayanan paruh waktu atau sukarelawan selagi bekerja di pekerjaan sekuler Anda.

Work-MinistryCarilah bimbingan dari doa dan Alkitab. Kejarlah pengetahuan akan keinginan Tuhan melalui dua saluran utama berkomunikasi yang telah Ia buka dengan Anda.

Kembangkanlah pernyataan-pernyataan visi dan misi pribadi. Berpikirlah dan berdoalah mengenai pernyataan sederhana yang merangkum misi-misi Tuhan dalam hidup Anda dan itu berdasarkan Firman Tuhan dan berorientasi kepada Injil. Lalu ciptakanlah sebuah pernyataan visi yang menyatakan pernyataan misi Anda menjadi gol-gol spesifik yang mendefinisikan bagaimana Anda berencana untuk menyelesaikan misi Anda.

Carilah konseling bijaksana. Tanyakanlah kepada orang yang Anda percayai dan mengenal Anda dengan baik - seperti teman-teman dekat atau anggota keluarga - untuk memperluas perspektif Anda sebagaimana Anda membedakan panggilan Tuhan dari karir Anda. Undanglah mereka untuk membawa kembali ke kenyataan ketika mereka berpikir Anda telah keluar jalur, dan merangkul Anda untuk mengambil resiko ketika mereka berpikir Anda telah berada di jalur yang benar.

Ambillah perhatian-perhatian keluarga Anda dengan serius. Berbicaralah terbuka dan jujur dengan pasangan Anda dan anak-anak Anda mengenai mimpi-mimpi Anda untuk karir Anda. Dengarkanlah dengan baik ungkapan-ungkapan yang mereka ekspresikan. Jika keluarga Anda tidak mendukung potensial perpindahan Anda untuk pelayanan penuh waktu, jangan kelabakan. Melainkan, lewatilah cerminan dari kehidupan Anda tersebut dan hadapilah dengan isu-isu yang Anda lihat disitu.

Pertimbangkanlah kesempatan-kesempatannya dan biaya-biayanya. Carilah kesempatan-kesempatan sebelum Anda memilih untuk memasuki pelayanan penuh waktu, dan bandingkan mereka dengan pengorbanan-pengorbanan yang mungkin saja harus Anda lakukan.

Telitilah kualifikasi-kualifikasi pendidikan Anda. Sadarilah bahwa Anda mungkin saja membutuhkan pendidikan lebih agar lebih efektif dalam pekerjaan pelayanan sepenuh waktu. Pertimbangkan untuk pergi ke seminar, mengambil kursus online, dan mendapatkan training yang akan menolong Anda melayani dengan sempurna. Pelajarilah semua yang Anda dapat mengenai Alkitab hingga memiliki dasar Alkitab yang kuat untuk memulai pekerjaan.

Buatlah keputusan yang diketahui. Jagalah visi Anda dalam pikiran ketika membuat keputusan Anda, jangan menjadikannya kosong, dan pastikanlah bahwa itu realistik, tepat pada waktunya, publik, dan untuk waktu yang panjang.

Percayalah kepada Tuhan dan carilah konfirmasi. Tunggulah Tuhan untuk datang kembali pada waktuNya setelah Anda membuat keputusan Anda, dan bersandarlah kepadaNya untuk mengatur keadaan bagi Anda untuk ganti pekerjaan.

Jangan melihat ke belakang. Sekali Anda telah melepas untuk mengejar karir Anda yang baru, jangan biarkan apapun menahan Anda dari belakang untuk bergerak selanjutnya dengan sepenuh hati.

Buatlah strategi keuangan untuk membuat perubahan dengan baik. Mengertilah bahwa merencanakan keuangan Anda adalah tindakan dari iman dan ketaatan yang mendemonstrasikan kepada Tuhan bahwa Anda mengambil panggilan Dia dengan serius.

Cari tahu bagaimana untuk menggunakan kemampuan-kemampuan Anda yang telah ada dengan baik untuk pekerjaan baru Anda. Bentuklah kembali kemampuan-kemampuan marketplace sekuler yang sudah Anda miliki hingga Anda bisa mengaplikasikannya untuk pekerjaan pelayanan Anda.

Work-MinistryLawanlah kesendirian. Bersiaplah untuk terkadang merasa sendiri setelah Anda mulai bekerja pelayanan penuh waktu, sehubungan dengan sedikitnya privasi dan banyaknya permintaan yang membatasi waktu Anda untuk pertemanan-pertemanan yang erat. Jagalah waktu renungan pribadi Anda, begitu juga waktu dengan pasangan dan anak Anda. Kelolalah pertemanan-pertemanan Anda yang telah ada, ingatlah bahwa teman-teman lama Anda mengetahui Anda lebih baik daripada teman-teman baru Anda.

Kalahkan ketakutan. Ingatlah bahwa, dengan Tuhan di sisi Anda, Anda tidak memiliki alasan apapun untuk takut. Pilihlah untuk memuji Tuhan apapun yang terjadi, bahkan ketika Anda melalui keadaan-keadaan yang menakutkan. Berdoalah untuk setiap ketakutan Anda dan serahkanlah mereka kepada Tuhan, percayailah Ia untuk melepaskan Anda dari kuasa mereka atas Anda. Tunggulah Tuhan untuk menjawab doa-doa Anda dengan cara-cara yang penuh kuasa. Larilah dari dosa apapun yang menyebabkan ketakutan dalam hidup Anda dan berpusatlah dengan damai melakukan pekerjaan yang Tuhan berikan kepada Anda.

Hadapi pihak oposisi. Ketika seseorang dekat dengan Anda seperti anggota keluarga atau anggota kunci gereja melawan pelayanan atau panggilan Anda, bersandarlah pada kekuatan Tuhan untuk mendapatkan Anda melalui krisis dan ketahuilah bahwa ia menggunakan pengalaman untuk menguatkan karakter Anda dan menumbuhkan kedewasaan Anda. Ingatlah bahwa setiap orang tidak sempurna dimanapun berada; janganlah terkejut ketika Anda menghadapi orang yang sulit dan perilaku-perilaku dan kebiasaan-kebiasaan menyakitkan di gereja. Mengertilah isu-isu yang umumnya menyebabkan orang oposisi: perubahan, kontrol dan otoritas, konflik dan konfrontasi, dan sedikitnya komitmen untuk kesempurnaan. Jika Anda yakina akan panggilan Tuhan untuk melayani, bertekunlah dalam ketaatan Anda, tak peduli apapun.

Read More..